Posts Tagged ‘spirit’

Renungi

Saturday, March 29th, 2008

Selama ini, kebanyakan orang termasuk diriku terlalu terobsesi untuk mendapatkan sesuatu. Terutama dalam mendapatkan uang. Akan tetapi, setelah aku renungi, memang pada jaman ini semuanya butuh uang, tapi uang tidak bisa membeli segalanya.

Kamu bisa membeli Jam Tangan mewah, tapi kamu tidak bisa membeli Waktu.

Kamu bisa Obat, tapi kamu tidak bisa membeli kesehatan.

Kamu bisa membeli Sex tapi tidak bisa membeli Cinta.

Hidup ini cuma sekali dan singkat mungkin sebaiknya berbuat baik di masa hidup kita. Menolong sesama, memberikan pelayanan kepada umat manusia tanpa pamrih.

Aku bertanya kepada diriku sendiri:

“Apa yang telah aku persembahkan kepada Ibu Pertiwi, kepada Nusa Bangsa, kepada Umat Manusia dan kepada Alam Semesta ini? “

Selama ini aku hanya bisa memohon.

Memberi Sebanyak-banyaknya bukan Mendapatkan sebanyak-banyaknya.

Teman Lama

Friday, February 8th, 2008

Tidak disangka, teman seperjuangan Papaku dulu bisa bertemu lagi kali ini, setelah sejak tahun 1963 tidak pernah ada kontak sama sekali. Tidak disangka juga kalau keponakan dari teman Papaku adalah salah satu temanku.
Oooh…. Dunia ini sangat sempit.
Awalnya Aku dan Bapak ingin melihat-lihat Handicraft yang dijual oleh Bapaknya TutDe Darmayasa. Setelah sempat melihat-lihat beberapa lama di tokonya, Aku dan Papa iseng main ke rumah nya Tutde untuk melihat bagaimana proses pembuatan Handicraft nya. Kemudian Papa iseng menyebut salah satu nama yang katanya Papa sempat belajar sama beliau dulu.
Kami diajak menemui seseorang yang namanya mirip, eh… ternyata orang itu teman seperjuangan lama Papa. Cuma saja Papa salah menyebutkan nama Beliau.
Kami ngobrol beberapa lama untuk mengenang nostalgia lama.
Waktu tak terasa, dan karena kami punya acara lain dan akhirnya kami pamit pulang. Diperjalanan kami masih bicara tentang mereka dulu dan tanggapan dari Papa tentang Handicraft yang mereka bikin.

Ooh ya… hampir lupa tentang perjalanan kami sebelum sampai di Tampaksiring.
Diperjalanan kami berdiskusi tentang silsilah Bhatara Kawitan, yang mana umat di Bali masih banyak yang bingung tentang kawitan mereka. Tidak tau secara persis apa penyebabnya. Mungkin ada kesalah pahaman dan pengertian pada umat. Kira-kira ini dimulai sejak jaman Waturenggong. Dimana sejak jaman itu mulai ada Piodalisme sampai saat ini. Akan tepapisekarang umat sudah mulai membuka wawasan mereka dan kembali menelusuri Kawitan mereka.
Hal ini sekarang menjadi hal yang sangat sensitif, karena umat saling berargumen bahwa Kawitan Si-A lebih “TINGGI” daripada Kawitan Si-B demiian pula sebaliknya.
Tapi bila kita telusuri lebih dalam, bahwa Kawitan kita adalah SAMA. Tidak ada tinggi-rendah. Kita sebagai umat memiliki asal mula yang sama.
Aku bertanya kepada diriku sendiri, “Siapa sih di Dunia ini Bukan Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa ?”
Bila kita sadar dan memahami serta mencintai sesama ciptaan Tuhan, itu berarti pula kita mencintai Tuhan itu sendiri. Karena di setiap ciptaan Tuhan ada Tuhan. Jika kita saling menghargai dan mencintai sesama, Perdamaian Dunia PASTI bisa terwujud.

Kecewa

Wednesday, November 14th, 2007

Semua hal yang telah berlalu dan telah terjadi baik itu hal yang menyenangkan maupun hal yang menyedihkan. Kita sepatutnya untuk mensyukuri apa yang telah kita dapatkan dan lalui selama ini. Semua itu pasti ada maknanya. Untuk hal yang menyedihkan, menyakitkan dan hal yang tidak berkenan yang telah dan sedang kita lalui, pasti ada perasaan menyesal dan kecewa. Tapi semua itu merupakan ritme dari kehidupan kita, kita tidak perlu terlalu menyesalinya.

   

Ubahlah… hadapilah… berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Hal yang telah kita lalui biarlah menjadi kenangan yang tersimpan. Itu dapat kita jadikan pelajaran hidup yang nantinya mungkin dapat kita gunakan di kesempatan yang lain.

          

Tetap tersenyum….!! Karena senyum akan membuat segalanya terasa lebih baik…